Percakapaan Alam dan Manusia Tentang Mana yang Harus Disalahkan

Alam dan manusia
Foto: adamevenevenadam.wordpress.com

Bencana sekarang sedang terjadi di mana-mana, salah satunya erupsi Gunung Agung di Bali, banjir dan longsor di Yogyakarta yang sudah menenggelamkan banyak rumah. Bahkan banjir pun melanda kota Jeddah di Arab Saudi yang rata-rata suhu cuacanya sangat panas.

Bencana yang terjadi selama ini adalah bukti kalau alam sudah sangat tua dan mungkin tidak bisa lagi menopang kehidupan manusia dalam waktu yang lama. Saat terjadi bencana kadang kita bertanya-tanya dalam hati kenapa alam sangat kejam, kenapa alam tega menghancurkan banyak bangunan dengan luapan banjir dan menimbun rumah-rumah warga dengan tanah longsor.

Dari pada menyalahkan alam atas bencana yang terjadi, lebih baik kita introspeksi diri kita sendiri. Alam itu tidak kejam, justru alam itu melindungi kita dari mara bahaya. Jika kita bisa mendengar suara alam, kita akan mendengar suara jeritan alam akibat ulah manusia.

Baca juga: Kisah Percakapan Allah dengan Bayi Sebelum Lahir ke Dunia, Menyentuh!

Di bawah ini ada sekilas percakapan antara alam dengan manusia yang bisa kita jadikan buat introspeksi diri kita sendiri.

Alam: “Wahai manusia, kenapa engkau menghancurkan ku, satu-satunya rumah yang menopang kehidupan mu.”

Manusia: “Aku harus mengambil semuanya dari mu wahai Alam, agar aku bisa bertahan hidup dan bisa kaya raya.”

Alam: “Aku sudah menyediakan semuanya untuk mu mulai dari sandang, pangan dan papan yang bisa kamu gunakan secukupnya untuk hidup. Tapi kenapa kamu begitu serakah dan mengambil semuanya?”

Manusia: “Maafkan aku alam, tapi serakah sudah jadi naluriku.”

Alam: “Wahai manusia, serakah memang sudah jadi naluri kamu, tapi kamu bisa mengendalikan naluri serakahmu agar tidak berlebihan dalam segala hal.”

Manusia: “Maafkan aku alam, kalau aku tidak serakah aku nanti hidup miskin dan menderita, tidak akan ada orang yang mau menghormatiku karena aku miskin.”

Alam: “Kenapa kau begitu ingin hidup kaya raya, ingin dihormat dan disegani orang lain, sementara kamu hidup di dunia ini tidak akan lama?”

Manusia: “Aku tidak tahu kenapa begitu wahai Alam, tapi aku merasa seolah akan hidup selamanya di dunia ini. Oleh karena itu aku harus mengumpulkan kekayaan bagaimanapun caranya, meski harus mengambil semuanya dari mu.”

Alam: “Begitukah pikiran mu? Baiklah kau boleh mengambil semuanya dari ku. Tapi jangan salahkan aku jika aku akan mengambil semuanya dari mu lagi.”

Manusia: “Baiklah Alam, aku adalah sosok yang kuat, tidak mungkin kamu bisa mengambil semuanya dari ku.”

Kemudian alam menunjukkan kemurkaannya dengan mengirim banjir besar, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi dan angin topan yang dahsyat.

Bangunan kokoh yang didirikan manusia yang bahan dasarnya dari alam seketika ditenggelamkan dalam banjir. Uang yang menumpuk seketika dihanguskan oleh panasnya api, jabatan yang dibangga-banggakan dan disombongkan disapu bersih oleh dahsyatnya angin topan.

Lalu manusia itu kembali lagi bertanya kepada alam:

Manusia: “Wahai alam, kenapa kau tega melenyapkan semua yang kumiliki.”

Alam: “Aku sudah memperingatkan mu jika kau mengambil semuanya dari ku, aku akan mengambil semuanya lagi dari mu. Tapi kau tidak mendengarkannya dan malah membangkang. Beginilah akibatnya.

“Lihatlah dirimu sekarang yang begitu lemah di hadapanku. Dulu kau begitu angkuh dan menyombongkan diri di depanku, mengambil semuanya dari ku dengan perasaan yang sangat haus. Kekayaanmu dan jabatanmu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikanku.”

“Dan sekarang kamu bilang aku tega… Wahai manusia, sekarang siapa yang kejam, aku atau kamu?”

Manusia itu hanya bisa terdiam membisu. Setelah kesusahan menimpanya, dia baru sadar apa yang sudah dilakukannya sebenarnya salah.

Semoga kisah di atas bisa membuat kita instropeksi. Semua bencana yang sudah terjadi mutlak bukan salah alam tapi salah kita sendiri kenapa tidak menjaga alam dengan baik.

Loading...
Tidak akan spam kok!